Posts Tagged ‘novel’

Seperti naik kura-kura. Yah begitulah kira-kira rasanya.
Walaupun sejatinya gw sendiri belum pernah naikin kura-kura.

Entah apa karena emang gw udah lama ga naik bis dengan perjalanan yang panjang, atau emang bisnya seperti kura-kura jalannya.

Perjalanan menuju Ciamis Sabtu 13 Juni 2009 kemarin sungguh sangat sangat sangat melelahkan dan membosankan. Ditambah lagi laju bis carteran kita yang na’udubilah lambatnya itu. Diperparah lagi AC dalam bis itu gak bisa disetel dan bentuknya bukan tutupan. Akhirnmya dengan sangat terpaksa gw pun harus rela didingini AC biadab itu.
Lengkap sudah penderitaan gw selama 11 jam perjalanan itu.

Biasanya, kalo kemana-mana, perjalanan sejauh apapun gw selalu riang dan gembira karena selalu ditemani BIS dari perusahaan BLUE STAR. tapi mungkin karena gw ketelatan pesen, BIS dari PO faovorit gw itu sudah ludes dipesen orang. Akhirnya terpaksa cari PO lain.

Dan hasilnya : SEPERTI NAIK KURA-KURA

Bayangkan saudara-saudara, perjalanan yg ditempuh dari habis subuh itu baru nyampe di Green Canyon jam 4 kurang 10 sore (dikurangi istrahat 2 x setengah jam). Mengenaskan sangat.

Wajar ngak sih Jakarta – Ciamis ditempuh 11 jam?

Ah untung saja sebelum berangkat tadi gw sempet bawa beberapa novel ringan di tas gw. Di antaranya New Moon (versi terjemahan tentunya) karya Stephenie Meyer yang baru setengah gw baca, dan JUK karyanya Bang Arham.

Dengan tujuan mulia untuk melenyapkan kebosanan, akhirnya gw-pun melakukan kegiatan membaca. Novel yg gw baca adalah New Moon. Tapi sepertinya novel ini harus dibaca dengan kondisi super nyaman dan dengan konsentrasi yang tinggi untuk dapat meyerap dan memahami isi dan kandungannya (cieh). Baru beberapa lembar gw udah kebosanan sendiri baca novel ini.

Berikutnya JUK. Novel karya bang Arham ini udah tiga bulan baru balik lagi ke Rak buku gw setelah gw ambil paksa dari peminjamnya.

Entah sudah berapa ratus tangan yang menjamah novel yg gw beli secara nggak sengaja waktu nungguin hujan reda di Book City – Giant Ciledug ini.

Iya. Secara waktu gw mendatangi si peminjam pertama, Idin, dia bilang novelnya lagi dipinjam Sarip. Begitu gw ke Sarip dia bilang lagi dipinjam Dadang, begitu gw ke Dadang dia bilang lagi dipinjam Tono. Arghhh… capek gw nguber2 peminjam.

Akhirnya gw instruksikan kepada peminjam pertama, si Idin, untuk segera mencari dan mengembalikan novel tersebut kepemilik sejatinya dengan tempo yang sesingkat-singkatnya. Dan berhasil saudara-saudara. 10 Jam sebelum keberangkatan si idin datang dengan JUK ditangannya.

Udah dulu ah.
Kepanjangan

to be continued ….. (Niruin film KCB)

Andrea Hirata

Suatu sore saat gw lagi BeTe
Tiba-tiba saja ada Pesan dari tukang SEND ALL
Isinya tentang ajakan untuk menghadiri peluncuran sebuah NOVEL yang paling ditunggu tahun ini. di sebuah toko buku di MP Book Point, di kawasan Cipete jam 19.00.

Dengan setengah hati gw mengiyakan, soalnya Jum’at sore tanggal 28 itu gw udah ada kegiatan lain yang tak kalah menyenangkan; tidur.

Detik-detik menjelang jam yang dijanjikan, 16.30, perasaanku jadi resah dan gelisah. Ada keinginan kuat ntuk datang.

Beberapa saat kemudian ku-SMS si tukang SEND ALL itu, untuk konfirmasi jadi ato nggaknya. Namun sungguh tiada kuduga, jawaban yang kudapat adalah …

“Ring, sori bgt,gw ga jd bos kg balik”

What?

Namun keinginan itu begitu kuat.
Akhirnya gw putusin tetap pergi meskipun sendiri, meskin belum tau tempat dan lokasinya. gw pergi hanya dengan berbekal SMS alamat yg dikirimkan dari tukang SEND ALL itu.

Sesampainya di Blok M, iseng2 gw ajak salah satu kawan buat nemenin, katakanlah JIMBRON. Dia termasuk salah satu penggemar buku2 Andrea Hirata.
Untung dia mengiyakan. Dapet teman deh.

Setelah tanya kiri kanan, takon mana mene, akhirnya didapatlah petunjuk agar gw naik Metromini 610. Lalu disarankan turun di Cipete.

Di tengah perjalanan, gw ngobrol dengan bapak-bapak yang hampir jadi kakek, secara anak perempuan tertuanya sedang hamil dan sebentar lagi melahirkan, lelaki cemara angin itu mengatakan kalo gw salah naik.

Dengan terpaksa kami turun di jalan. tepatnya di ITC Fatmawati. Lalu bertanyalah kembali kepada seseorang yang kebetulan keliatan pinter. jawaban yang gw dapet, sebenrnya gw udah bener naik metromini 610 tadi, tinggal lurus terus turun di D’Best fatmawati dan belok ke kiri tinggal lurus. Nyampe deh.

Wah dikerjain kakek-kakek dah gw.

Dengan masih dongkol gw kembali menyetop Metromini 610 dan melaju lagi.
Sesampainya di D’Best kami turun, kemudian bertanya lagi ke beberapa tukang Owjek yang sdang mangkal,

“Dekat kok mas, tinggal lurus nanti ada lamu merah lurus lagi paling beberapa ratus meter, kalo naik ojek paling 5000, mau?” Gitu jawaban dari Kang Ojek.

Kalo deket, ngapain naik ojek, jalan aja dah itung-itung olah raga.

Namun setelah sekian riobu langkah belum juga nyampe, lampu merah yang dijanjikan si tukang ojek tadi belum juga menampakan lampunya.
Sudah lebih darui setengah jam kami berjalan.
Jauhnya minta ampun. Kalo tau gini mendingan naik ojek tadi.

Namun, peluh dan lelah terasa hilang saat kami melihat sebuah plang dengan tulisan MP bookpoint, di toko buku itu terlihat sangat ramai sekali didesaki pengunjung.

Dari luar kulihat bang Ikal sedang sibuk melayani dan menandatangani novel yang baru saja diluncurkannya, sebuah novel penutup tetralogi Laskar pelangi. Maryamah karpov.

Dengan keinginan menggebu dan nggak pake mikir, gw nyerobot masuk lewat pintu undangan. Tiba-tiba seorang gadis cantik berkerudung putih megalangi kami.

“Mas, ini khusus undangan, mas undangan dari mana?”

Undangan? Undangan dari Hongkong?
Malunya gw. Akhirnya dengan langkah mundur gw berbalik arah.
lalu gw nanya ke die, biar bisa masuk gimana caranya?

Dia bialng gw mesti beli dulu bukunya, abis itu bisa masuk dan minta tanda tangan. Oke deh, emang tujuan gw kesini salahsatunya buat beli buku juga kok.

Setelah ngantri beberapa lama, akhirnya tibalah giliran gw.
Si Mbak Penjaga Buku (MPB) itu bertanya

“Mas pake kartu apa?”
“Kartu? Kartu apaan mbak?”
“Kartu kredit dong, Mas. Masa kartu tanda penduduk, heheh”
“Waduh kebetulan lagi nggak bawa mbak,” padahal emang ga punya.
“Maaf mas, di sini hanya melayani Kartu Kredit”

Padahal gw udah nyodorin duit. Sepertinya duit emang udah mulai nggak laku.
Orang yang ngantri di belakabang gw tampak menahan tawa.
Wah malu lagi gw. Udah 5 kali hari ini gw menanggung malu.

Namun si Mbak itu mau berbaik hati. Dia memberi petunjuk agar gw beli secara reguler aja, sambil menunjuk ke antrian yang lebih panjang lagi. Cape deh…

Setelah beberapa ribu detik, akhirnya gw pun bisa mendapatkan buku itu, dan kalo mau mendapat tanda tangannya gw mesti berdesak2 an lagi dengan puluhan orang yang sedarui tadi menyesaki toko buku itu seolah tak pernah habis. Capek lagi deh.

AC diruangan itu seakan tak berfungsi, keringat deras sebesar jagung mengucur, membasahi kaos dan Kerpus gw. Gw kepanasan.
Tapi mungkin inilah slah satu jalan yang harus gw tempuh untuk bisa dapat berdekatan langsung dengan nya.

Ketika tiba giliranku …. Dia tersenyum menatapku, senyumnya manis. manis sekali, begitulah senyum ikhlas, boi. Akan terlihat lebih manis dari gula aren.

Senyumnya seolah berkata :
Terima kasih sudah datang, beginilah nasibku, boi.

Kulitnya putih bak pualam, rambut ikalnya ditutupi topi khas yang selalu dia pake.
Sungguh mengangumkan penampilannya saat itu. Simple but Elegan

Setelah lebih dekat, Tak kusia-siakan kesempatan ini, kujabat tangannya dengan erat sebelum dia menandatangani buku-ku itu.

Terimakasih, kal. Pertemuan yang sangan mengesankan.

Gw tidur dengan sangat nyenyak malam itu.